Taman Bungkul Kok Aneh Ya?

Pada suatu malam yang tidak begitu indah saya jalan – jalan ke sebuah taman yang terkenal di surabaya, suasanya cukup menyenangkan dan ramai dengan anak-anak kecil yang bermain. tidak akalah ramai juga pedagang yang sedang berdagang untuk mendapatkan banyak suap nasi. suasana ini membuat orang-orang betah jalan-jalan ke taman bungkul apalagi pada malam liburan khususnya malam minggu. tapi bukan ini yang sebenarnya mau saya ceritakan.

Ini dia, waktu datang ke taman bungkul yang mengendarai sepeda motor dan langsung parkir di bukan tempat parkir. disana sudah banyak motor yang berjejer dan ada petugasnya pula, yang kadang menggunakan baju khusus tukang parkir (seragam). meskipun sepertinya tidak ada jaminan diganti kalau motor hilang, penjaga parkir memberi instruksi untuk tidak mengunci setir dan memberikan karcis keluaran pemda. di karcisnya terstempel tanggal hari itu, dari sini saya berfikir ” o ini karcis asli”. saya berfikir seperti ini karena biasanya di beberapa tempat di surabaya menggunakan karcis yang sudah kadaluarsa.

pendeknya cerita, setelah menikmati muter di taman bungkul tersebut (kayak waktu sekolah aja kalimatnya), saya pun berniat pulang, pas mau pulang saya menunjukkan karcis tadi, tapi ternyata sang penjada parkir memintanya, dalam otak saya berfikir, “kalo diminta lagi entar dipake lagi, terus itungan uang yang masuk negara gimana?”. tapi ah sudahlah, dunia emang gitu. karena di karcisnya tadi itu tertulis dengan jelas Rp. 500.00 maka saya mengeluarkan uang pas sesuai tulusannya tadi, nah tapi tukang parkirnya minta Rp 2000, nah kan? terus gimana ini. salahnya dimana hayo??? kalo seprti ini terus, kapan negeri kita akan maju, tukang parkir aja udah korupsi. mungkin nilai uangnya sedikit, tapi kalau berumpul ya jadi banyak..  duh..

Gempa Lagi

Gempa terus melanda negeri kita, atau bahkan dunia. Gempa merupakan musibah yang datangnya dari tuhan, karena datangnya dari tuhan, sehingga tidak dapat ditolak oleh manusia. manusia hanya bisa mengurangi efek dari gempa. tapi tidak bisa mengurangi kekuatan gempa. hingga saat ini belum ada teknologi untuk meramalkan gempa.

Ya Allah, ampuni dosa kami..

4+1 = 5

Sudah 5 kali aku kehilangan HP, dianta 5 itu, empat kalinya HP ku hilang saat aku tidur dan HP ku itu berada di sisiku, maling oh maling, teganya dikau mencuri HPku. Semoga yang mencuri HP ku diberi Hidayah oleh Allah SWT sehingga sadar dan HPku dikembalikan, lumayanlah bisa punya empat HP kalo semuanya dikembalikan.

Lalu satu lagi HP ku hilang setelah aku beli HP baru, ketinggalan di warung makan. sayangnya kata yang punya warung nggak ada HP ketinggalan. duh nasib lagi, kenapa banyak orang yang suka mengambil kesempatan dalam ke lalaianku. semoga semua sadar dech.

Semua Ada Waktunya

Kemrin, Hari Ini dan besok.. waktu akan terus berjalan. meski kita berhenti bergerak, waktu akan terus berjalan.

Sesaat aku tersadar untuk segera pergi, pergi dari kebiasaan selama ini yang mendekapku.

Kontrakan yang bayaran listrik dan airnya aku tanggung sendiri, meski yang make banyak orang, aku harus berubah, selamat tinggal kontrakan mahalku..

Terlalu nyantai kuliah yang membuat aku gak lulus-lulus praktikum yang paling aku sukai yaitu Interfacing & Mikrokontroler yang sekarang berdasarkan ekivalensi kuliahnya akhirnya dihapus. dan aku harus mengambil mata kuliah technoprenuer untuk menggantinya. selamat tinggal mbak lab yang galak dan selamat berjumpa di dunia technoprenuer yang menjadi cita-citaku.

Jarang masuk kuliah pak bambang karena dulu pernah merasa ditipu, yang sampai sekarang aku belum dapat nilainya akhirnya harus ku akhiri juga. aku akan kuliah lagi dengan damai, tapi tak bersama pak bambang lagi.. ho..ho.. asiknya..

Dll..

Andai Tak Kau Tunjukkan Keraguan Itu

Aku begitu yakin akan jalan yang ku puluh ketika ku berada di persimpangan.

Aku begitu yakin jalan itu lurus dan dak berduri.

Aku begitu yakin kita bisa jalani bersama dengan damai.

Namun..

Ditengah jalan kau mengajak kembali

Ditengah jalan kau tunjukkan keraguanmu.

Sekarang kau mengajak kita meneruskan perjalanan ini, sulit bagiku membangun kembali keyakinan yang telah kamu hancurkan.

sulit bagiku untuk berjalan dalam keraguan

Birokrasi Pingpong Berganda di Kampus UNESA (1)

Suatu hari saya membantu salah satu keluarga saya mengurus keringanan untuk mengangsur biaya pendidikan di kampus UNESA. ternyata jaman se modern ini masih ada birokrasi yang menggunakan gaya pingpong. lempar sana lempar sini. begini ceritanya:

Pagi itu adik saya yang mau kuliah mengajak saya untuk menjadi walinya dan mengurus keringan biaya kuliahnya. berangkatlah saya ke kampus pusat yang ada gedung tempat rektor dan pembantunya berkantor. menurut adik saya berdasarkan informasi hari sebelumnya yang berhak memberi keringan adalah pembatu rektor 2 yang selanjutnya disebut PR2.

Tibalah pagi itu di ruang PR2, saya bertemu dengan seorang wanita cantik dan badannya agak gede.–>selanjutnya saya sebut WCBG..  yang kemudia diketahui ternyata dia sekretaris PR2

saya: “permisi bu,mau ketemu PR2 ada?”

WCBG:”ada perlu apa mas?

saya:”ini bu saya mau ngajukan keringan biaya masuk kampus ini”

WCBG:”lho kok kesini?, ke bagian pendaftaran sana.. PR2 tidak berwenang untuk itu”

saya:”oh, yaudah bu makasih..”

saya pun segera pergi ke bagian pendaftaran, setelah nyampe di bagian pendaftaran saya bertemu dengan seorang laki-laki yang agak tua.

laki-laki tua:”ada apa?”

saya:”ini pak, saya mau ngajukan permohonan angsuran biaya masuk”

laki-laki tua:”kalau begitu kamu ngajukan surat permohonan ke DEKAN Fakultas mu”

saya:”o gitu pak, makasih ya pak”

saya pun bikin surat yang dimaksud dan segera meluncur ke kampus satunya, tempat fakultas saya yang jaraknya lumayan jauh, butuh waktu kurang lebih 30 menit.

setelah sampai, saya langsung menuju ruang DEKAN, dan bertemulah dengan DEKAN yang dimaksud, setelah melalui diskusi agak panjang, saya diminta ke PR2 kalau mau mengajukan keringan. meskipun saya sudah menjelaskan bahwa sekretaris PR2 menyatakan bahwa PR2 tidak punya kewenangan untuk itu, namun sang DEKAN tetap bersikukuh bahwa kewenangan ada di PR2.

maka rangkatlah saya ke kampus pusat lagi menemui sekretaris yang PR2. ketemu dengan sekretaris PR2, dengan penjelasan yang masuk akal saya akhirnya setuju bahwa yang punya wewenang sebenarnya DEKAN. beginilah kutipan penjelasannya:

“begini mas, sekarang kampus ini sudah otonomi, dan biaya gedung itu sudah otonomi dan diurus fakultasnya masing-masing untuk pengembangan fakultas itu sendiri, jadi itu tergantung kebijakan DEKAN fakultas itu sendiri. PR2 tidak berhak ikut campur karena itu urusan internal fakultas”

cukup masuk akan dan saya menerimanya, saya kembali meluncur ke kampus tempat fakultas saya bernaung. karena tidak bertemu sang DEKAN saya pun menemui Bagian Tata Usaha. saya menjelaskan yang dijelaskan sekretaris PR2. namun menurut penjelasan pihak Tata Usaha bahwasanya khusus keringan atau angsuran itu wewenang PR2 dan DEKAN akan menyetujui jika PR2 setuju, jadi saya diminta membuat surat pengajuan ke PR2.

saya pun kembali ka kampus pusat tadi dengan perasaan yang campur aduk, menemui sekretaris PR2 dengan membaw surat permohonan angsuran.

WCBG:”gimana mas?”

saya:”begini bu, menurut pihak fakultas yang berwenang ya PR2″

WCBG:”lho kan sudah saya jelaskan tadi mas, PR2 gak berwenang”

saya pun mengeluarkan senjata pamungkas meski dengan berbohong

saya:”begini bu, saya sudah menemui DEKAN kata beliau pada dasarnya beliau setuju kalau PR2 ACC surat saya”

WCBG:”oo begitu, kalau begitu suratnya tinggal dulu mas, besok pagi aja kembali kesini ngambil suratnya soalnya PR2 sekarang ke jakarta”

saya:”iya bu, makasih”

saya pun pulang dengan puas meski sudah menjadi bola pingpong namun surat saya akhirnya bisa dimasukkan dan menunggu esok harinya..

to be continue…