Suatu hari saya membantu salah satu keluarga saya mengurus keringanan untuk mengangsur biaya pendidikan di kampus UNESA. ternyata jaman se modern ini masih ada birokrasi yang menggunakan gaya pingpong. lempar sana lempar sini. begini ceritanya:
Pagi itu adik saya yang mau kuliah mengajak saya untuk menjadi walinya dan mengurus keringan biaya kuliahnya. berangkatlah saya ke kampus pusat yang ada gedung tempat rektor dan pembantunya berkantor. menurut adik saya berdasarkan informasi hari sebelumnya yang berhak memberi keringan adalah pembatu rektor 2 yang selanjutnya disebut PR2.
Tibalah pagi itu di ruang PR2, saya bertemu dengan seorang wanita cantik dan badannya agak gede.–>selanjutnya saya sebut WCBG.. yang kemudia diketahui ternyata dia sekretaris PR2
saya: “permisi bu,mau ketemu PR2 ada?”
WCBG:”ada perlu apa mas?
saya:”ini bu saya mau ngajukan keringan biaya masuk kampus ini”
WCBG:”lho kok kesini?, ke bagian pendaftaran sana.. PR2 tidak berwenang untuk itu”
saya:”oh, yaudah bu makasih..”
saya pun segera pergi ke bagian pendaftaran, setelah nyampe di bagian pendaftaran saya bertemu dengan seorang laki-laki yang agak tua.
laki-laki tua:”ada apa?”
saya:”ini pak, saya mau ngajukan permohonan angsuran biaya masuk”
laki-laki tua:”kalau begitu kamu ngajukan surat permohonan ke DEKAN Fakultas mu”
saya:”o gitu pak, makasih ya pak”
saya pun bikin surat yang dimaksud dan segera meluncur ke kampus satunya, tempat fakultas saya yang jaraknya lumayan jauh, butuh waktu kurang lebih 30 menit.
setelah sampai, saya langsung menuju ruang DEKAN, dan bertemulah dengan DEKAN yang dimaksud, setelah melalui diskusi agak panjang, saya diminta ke PR2 kalau mau mengajukan keringan. meskipun saya sudah menjelaskan bahwa sekretaris PR2 menyatakan bahwa PR2 tidak punya kewenangan untuk itu, namun sang DEKAN tetap bersikukuh bahwa kewenangan ada di PR2.
maka rangkatlah saya ke kampus pusat lagi menemui sekretaris yang PR2. ketemu dengan sekretaris PR2, dengan penjelasan yang masuk akal saya akhirnya setuju bahwa yang punya wewenang sebenarnya DEKAN. beginilah kutipan penjelasannya:
“begini mas, sekarang kampus ini sudah otonomi, dan biaya gedung itu sudah otonomi dan diurus fakultasnya masing-masing untuk pengembangan fakultas itu sendiri, jadi itu tergantung kebijakan DEKAN fakultas itu sendiri. PR2 tidak berhak ikut campur karena itu urusan internal fakultas”
cukup masuk akan dan saya menerimanya, saya kembali meluncur ke kampus tempat fakultas saya bernaung. karena tidak bertemu sang DEKAN saya pun menemui Bagian Tata Usaha. saya menjelaskan yang dijelaskan sekretaris PR2. namun menurut penjelasan pihak Tata Usaha bahwasanya khusus keringan atau angsuran itu wewenang PR2 dan DEKAN akan menyetujui jika PR2 setuju, jadi saya diminta membuat surat pengajuan ke PR2.
saya pun kembali ka kampus pusat tadi dengan perasaan yang campur aduk, menemui sekretaris PR2 dengan membaw surat permohonan angsuran.
WCBG:”gimana mas?”
saya:”begini bu, menurut pihak fakultas yang berwenang ya PR2″
WCBG:”lho kan sudah saya jelaskan tadi mas, PR2 gak berwenang”
saya pun mengeluarkan senjata pamungkas meski dengan berbohong
saya:”begini bu, saya sudah menemui DEKAN kata beliau pada dasarnya beliau setuju kalau PR2 ACC surat saya”
WCBG:”oo begitu, kalau begitu suratnya tinggal dulu mas, besok pagi aja kembali kesini ngambil suratnya soalnya PR2 sekarang ke jakarta”
saya:”iya bu, makasih”
saya pun pulang dengan puas meski sudah menjadi bola pingpong namun surat saya akhirnya bisa dimasukkan dan menunggu esok harinya..
to be continue…
DIarsipkan di bawah: Opini | Ditandai: birokrasi, kampus, pingpong, UNESA, wanita cantik




Mas Eeng bola ping pong, coba lihat di buku panduan kuliahnya pasti ada, atau kalo ada sesuatu coba minta bantuan teman2 di pasca, yg saya tau di sana ada tmn2 jg dr Kngean, ok…. semoga besok tambah besar jadi bola tenis…………. tq