Pada suatu malam yang tidak begitu indah saya jalan – jalan ke sebuah taman yang terkenal di surabaya, suasanya cukup menyenangkan dan ramai dengan anak-anak kecil yang bermain. tidak akalah ramai juga pedagang yang sedang berdagang untuk mendapatkan banyak suap nasi. suasana ini membuat orang-orang betah jalan-jalan ke taman bungkul apalagi pada malam liburan khususnya malam minggu. tapi bukan ini yang sebenarnya mau saya ceritakan.
Ini dia, waktu datang ke taman bungkul yang mengendarai sepeda motor dan langsung parkir di bukan tempat parkir. disana sudah banyak motor yang berjejer dan ada petugasnya pula, yang kadang menggunakan baju khusus tukang parkir (seragam). meskipun sepertinya tidak ada jaminan diganti kalau motor hilang, penjaga parkir memberi instruksi untuk tidak mengunci setir dan memberikan karcis keluaran pemda. di karcisnya terstempel tanggal hari itu, dari sini saya berfikir ” o ini karcis asli”. saya berfikir seperti ini karena biasanya di beberapa tempat di surabaya menggunakan karcis yang sudah kadaluarsa.
pendeknya cerita, setelah menikmati muter di taman bungkul tersebut (kayak waktu sekolah aja kalimatnya), saya pun berniat pulang, pas mau pulang saya menunjukkan karcis tadi, tapi ternyata sang penjada parkir memintanya, dalam otak saya berfikir, “kalo diminta lagi entar dipake lagi, terus itungan uang yang masuk negara gimana?”. tapi ah sudahlah, dunia emang gitu. karena di karcisnya tadi itu tertulis dengan jelas Rp. 500.00 maka saya mengeluarkan uang pas sesuai tulusannya tadi, nah tapi tukang parkirnya minta Rp 2000, nah kan? terus gimana ini. salahnya dimana hayo??? kalo seprti ini terus, kapan negeri kita akan maju, tukang parkir aja udah korupsi. mungkin nilai uangnya sedikit, tapi kalau berumpul ya jadi banyak.. duh..
DIarsipkan di bawah: Opini, idealisme | Ditandai: korupsi, liburan, parkir, surabaya, taman, taman bungkul



